Pengalaman Mengunjungi Kampung Ramah Lingkungan di Cilegon, Banten

Kampung Ramah Lingkungan di Cilegon
Jam sudah menunjukan pukul 07.00 pagi, tandanya saya dan teman-teman Blogger Jakarta lainnya bersiap berangkat menuju Cilegon, Banten. Tujuan dari perjalanan kami adalah untuk melihat seperti apa sih wajah perkampungan yang telah mendapat penghargaan dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagai kategori Program Kampung Iklim Utama pada Oktober 2018 lalu.

Kegiatan ini juga didukung oleh CSR PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (“Indocement”) produsen Semen Tiga Roda dan Semen Rajawali sebagai bentuk dukungan untuk pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas hidup dan lingkungan yang bermanfaat bagi komunitas setempat dan masyarakat.

Seperti apa cerita menarik saya mengenai kunjungan ini, yuk simak tulisan ini sampai selesai ya gaes!

Dari Jakarta kami menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam hingga akhirnya sampai di lokasi pertama yaitu di Kelurahan Randakari Kecamatan Ciwandan, Kota Cilegon dimana terdapat terminal batu bara dan semen Cigading milik Indocement.
kesenian bendrong lesung
Ibu-ibu memaninkan Bendrong Lesung | Dok. Pribadi
Kedatangan kami kami langsung rupanya disambut oleh ibu-ibu Kelompok Wanita Tani “Maju Makmur” dengan menampilkan pertunjukan Bendrong Lesung yang merupakan salah satu kesenian tradisional Banten.

Dikenal dengan Kawasan Rumah Pangan Lestari

Di Kelurahan Randakari ini terdapat pembagian sub Kelompok Wanita Tani (KWT) yang mana dibagi berdasarkan tiap RT di daerah tersebut diantaranya ada Sub KWT Seledri, Sub KWT Sawi, Sub KWT Kangkung, Sub KWT Tomat dan Sub KWT Cabe dan Bawang.

Hasil tanaman sayur yang dihasilkan dari kampung disi cukup melimpah, biasanya mereka menjual hasil panen melalui koperasi atau bisa juga dijual langsung ke warga sekitar. Selain itu ternyata hasil panen sayuran tadi ada yang diolah menjadi cemilan yang enak dan bergizi seperti kerupuk seledri, rempeyek seledri, kue beras seledri, kue lumpur sawi, jus seledri, dll.
Sayuran hasil kebun dan olahan yang sehat | Dok. Pribadi
Uniknya mereka tidak menanam sayur-sayuran tersebut di kebun pada umumnya. Menurut Ibu Tumiyati selaku ketua dari sub KWT seledri, menanam di kebun sudah pernah dicoba namun hasilnya kurang maksimal jadi sekarang banyak yang menanam sayuran di polibag dan bungkus plastik bekas lalu diletakkan di sekitar rumah.

Hal ini juga sejalan dengan kegiatan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) dimana memiliki manfaat seperti :
  • Ramah lingkungan dan pemanfaatan barang bekas
  • Konservasi sumberdaya genetik lokal
  • Peningkatan pendapatan keluarga dan masyarakat
  • Mendukung diversifikasi pangan berbasis sumberdaya lokal
  • Ketahanan dan kemandirian pangan dan gizi keluarga
Di sepanjang perjalanan kami dan warga sempat ngobrol banyak hal mengenai lingkungan dan dampaknya terhadap masyarakat.

Sifat ramah, kekeluargaan dan mudah diajak guyon sepertinya sudah melekat di kampung ini. Ah..saya jadi teringat kampung halaman yang suasananya tidak jauh berbeda.

Belajar dan Bermain di Rumah Pemberdayaan Lumbung Ilmu

Terdengar suara anak-anak yang sedang bernyanyi, belajar, bermain, berteriak dan sesekali bercanda. Itulah gambaran suasana yang ada di Rumah Pemberdayaan Lumbung Ilmu yang memang menjadi sebuah tempat pengembangan anak usia dini (PAUD).

Ibu Purwanti, sosok local hero yang telah banyak berkontribusi dalam kemajuan Rumah Pemberdayaan Lumbung Ilmu ini. Beliau menjelaskan bahwa anak-anak di kampung ini bisa belajar dan bermain bersama-sama dengan guru pengajar, selain itu disini ada juga perpustakaan yang menyediakan buku-buku yang menarik untuk dibaca.
penghargaan dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Penghargaan dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan | Dok Istimewa
Sedangkan bagi orang tua yang menunggu anaknya pulang dari PAUD bisa bersama-sama berkreasi membuat berbagai macam jenis kerajinan tangan yang bisa dijual kembali.

Waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 siang dan sampailah kami di salah satu rumah warga. Saya melihat ada banyak sekali makanan yang disuguhkan untuk kami. Wah pas banget momennya, nggak pake lama teman-teman pun langsung nyamber setiap makanan yang ada.

Pemberdayaan Masyarakat Melalui Sanggar Wuni Kreasi

Selanjutnya kami bergeser ke Kelurahan Tegal Ratu Kecamatan Ciwandan Kota Cilegon. Disini terdapat sebuah sanggar yang bernama Sanggar Wuni Kreasi (SWK). Sanggar yang didirikan oleh anak muda yang bernama Nur Cholis ini telah berdiri sejak tahun 2017.
sanggar wuni kreasi
Founder SWK Nur Cholis | Dok. Pribadi
Hingga sekarang SWK telah memberikan banyak kontribusi yang positif di kampung ini. Keberhasilan ini dicapai berkat program-program yang fokus memberdayakan semua kalangan masyarakat.

Program tersebut diantaranya ada Bank Sampah, Kesenian, Taman Baca dan Kerajinan Limbah Kayu. Kegiatan ini semuanya melibatkan anak-anak, remaja, dewasa hingga orang tua di daerah tersebut. Nur Cholis melihat potensi yang ada di daerah dan menyediakan tempat untuk anak-anak bisa belajar, bermain serta mengembangkan bakat mereka.

Salah satu hal yang membuat saya terkesan dari Sanggar Wuni Kreasi (SWK) yaitu mereka mencoba untuk melakukan fundraising dari kerajinan kayu yang berkelanjutan dan mandiri supaya tidak ketergantungan terhadap pendanaan saja.
kegiatan sanggar wuni kerasi
Kegiatan pemberdayaan masyarakat SWK | Dok. Pribadi
Produk yang dihasilkan bermacam-macam mulai dari lemari, bingkai, talenan, rak buku, meja dan kursi. Mereka juga menerima pesanan custom sesuai permintaan pembeli.

Akhirnya perjalanan kami pun harus disudahi mengingat hari sudah menjelang sore dan hujan pun sudah sudah mulai turun kami bersiap pulang untuk kembali ke rumah masing-masing. Sambil membahas, berbagi cerita dan pengalaman inspiratif yang kita dapatkan tadi di perjalanan pulang ke Jakarta.