Gerakan Kecil untuk Perubahan Besar

Gerakan Kecil untuk Perubahan Besar
Dalam berproses menjalani kehidupan di dunia ini kita sebagai umat muslim memiliki kewajiban untuk selalu menjaga ibadah dalam niat mencari Ridha Allah Subhanallah wa ta'ala. 

Saya yakin teman-teman pasti masih ingat dengan Rukun Islam yang mana diawali dengan 2 kalimat syahadat dilanjutkan dengan shalat, puasa, zakat dan melaksanakan haji (bila mampu). 

Rukun Islam merupakan panduan supaya kita bisa menyambung koneksi langsung ke langit yaitu kepada Sang Pencipta (Habluminallah) dan koneksi kepada para penghuni di bumi (Habluminannas).

Selain menunaikan amalan individu sebagai manusia kita juga dituntut peka terhadap fenomena sosial yang terjadi ditengah-tengah masyarakat. Pasti luar biasa nikmatnya ketika melihat umat muslim bersatu dalam kebaikan.

Manusia masih mudah terlena dengan dunianya masing-masing seakan-akan hidup hanya untuk berjuang mencari sesuap nasi, memang sih tidak sepenuhnya keliru. 

Namun setidaknya berikan ruang kosong pada hati kita dan rehat sejenak dari rutinitas tersebut untuk sekedar menengok kondisi saudara muslim kita diluar sana yang masih terzolimi contohnya saja Palestina, Syiria, Myanmar dan Suriah.

Bukankah mereka juga punya hak untuk berkecukupan dan merasakan bahagia seperti yang saat ini kita miliki?

Seperti biasa selepas melaksanakan shalat Magrib saya duduk di tangga masjid. Hanya sekedar untuk mengingat kembali apa yang sudah saya lakukan selama hidup dan langkah apa yang akan saya ambil kedepannya nanti.
Manusia bisa berencana biar Allah yang menentukan...
Seringnya saya terlalu fokus terhadap perjuangan saya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sehingga mematikan kepekaan saya terhadap masalah yang terjadi di sekitar.

Di satu titik saya juga merasakan rasa gelisah ketika mendapati jika masih banyak saudara-saudara kita sesama muslim yang berada diluar sana kondisinya memprihatinkan.

Sejumlah pertanyaan muncul begitu saja tentang dimana mereka tidur, mereka makan pakai apa, bagaimana kondisi anak kecil itu, siapa yang merawat mereka, bagaimana masa depan mereka nanti...
Dalam hati : Gaji yang saya terima saja untuk kebutuhan sehari-hari masih pas-pasan, buat bayar tagihan ini itu saja habis dan sisanya untuk ditabung.
Ujung-ujungnya ketika berdonasi saya lebih mengutamakan uang yang nominalnya kecil dibanding yang nominalnya gede #DasarAku.

berdonasi nominalnya kecil

Jangan ditiru ya teman-teman :)

Pelajaran yang saya dapatkan adalah jangan takut kekurangan atau sengsara ketika harta kita digunakan untuk berbagi, karena yakin pasti Allah Subhanallah wa ta'ala akan memberikan balasan yang lebih besar dan lebih nikmat lagi dari apa yang didapatkan saat ini.

Mulai dari sini saya bertekad untuk bisa lebih lagi untuk membantu mereka yang membutuhkan melalui donasi yang saya sisihkan dari gaji yang saya terima setiap bulan.

Awalnya sulit tapi kalau sudah terbiasa insyaallah akan membahagiakan dan menenangkan.

Goodbye rasa gelisah.


Selain berdonasi dalam bentuk makanan, barang atau uang kita juga bisa berdonasi dengan mengabdikan tenaga kita untuk terjun langsung menjadi relawan dalam kegiatan sosial kemanusiaan.

Pada berbagai kesempatan, saya mencoba untuk menceburkan diri saya kedalam kegiatan sosial, kemanusiaan maupun kegiatan CSR. Alasannya sederhana "panggilan jiwa". Walaupun saya tidak selalu bisa nimbrung secara intens karena tuntutan pekerjaan sehari-hari.

Namun ketika berada pada waktu dan tempat yang tepat, saya tidak akan melewatkan momen tersebut untuk bisa bergerak mengikuti panggilan jiwa ini.
Bergairah seperti ada energi positif yang mengisi hati ini. Seperti ada senyum bahagia yang tertularkan.
Berbagi dengan cara seperti ini juga sebagai cara saya untuk bersyukur karena memiliki raga yang sehat dan kuat. Jadi kenapa tidak dimanfaatkan saja untuk melakukan hal baik selagi masih sehat?

kegiatan csr di cilegon
Saya dalam kegiatan CSR di Cilegon

kegiatan csr di cilegon
Anak-anak didik sedang belajar | Dokpri

Rasanya memang kurang lengkap jika dalam hidup kita tidak memiliki posisi untuk berkontribusi di tengah-tengah masyarakat. Tidak perlu menunggu hingga mampu, tidak perlu menunggu hingga kuat, muda, tua, laki-laki, perempuan, jika bersama-sama kita pasti bisa memberikan perubahan bagi sekitar.
Seperti jemari, akan menggenggam erat jika kelima jarinya saling bergerak.


Tugas kita sebagai mahkluk sosial ternyata mendapat banyak tantangan apalagi menyangkut kesejahteraan. Angka kemiskinan yang masih tinggi juga menjadi salah satu penghambat pembangunan ekonomi di Indonesia.

Zona kemiskinan selalu melingkari kehidupan manusia mulai dari miskin iman dan takwa, ekonomi, kesehatan, pendidikan dan budaya. Hal ini akan menyebabkan kesenjangan di tengah-tengah masyarakat.

kesenjangan akibat kemiskinan
Sumber dompet dhuafa | Infografis by Iamdewangga

Berikut ada data peta kemiskinan yang saya ambil dari Indonesia Development and Islamic Studies (IDEAS) bisa dilihat pada gambar di bawah ini.


peta penduduk miskin
Kantong kemiskinan data tahun 2014 oleh IDEAS

Melihat fenomena ini sungguh miris bukan? bahkan di Pulau Jawa sekalipun yang sudah memiliki kelengkapan infrastruktur sosial-ekonomi masih mendominasi tingkat penduduk miskin terbesar.

Islam memberikan solusi untuk mengentaskan kemiskinan dan salah satunya adalah zakat. Dengan memberikan kewajiban kepada si kaya agar memberikan sedekah (zakat) kepada si miskin diharapkan mampu memberikan jaminan sosial bagi masyarakat.

Berdasarkan data yang saya peroleh dari Dompet Dhuafa saat ini masih ada sebesar 23.80 juta jiwa saudara-saudara kita di luar sana yang masih memerlukan uluran tangan kita.

jumlah penduduk miskin di Indonesia
Sumber public ekspose Dompet Dhuafa 2018
Yuk mari berbagi ke sesama dan bantu mereka untuk bisa keluar dari zona kemiskinan melalui zakat.


Berkembangnya teknologi digital dan informasi membuat segala hal menjadi mudah, transparan dan cepat, begitu pula dengan melakukan menyalurkan kebaikan seperti donasi. Saat ini donasi dalam bentuk zakat, infak/ sedekah, wakaf, kegiatan kemanusiaan bahkan qurban juga sudah online sistemnya.
Dalam hati...mungkin ini yang namanya semesta mendukung. Mudahnya berbuat kebaikan.
berdonasi melalui marketplaces
Jangan takut berbagi via Dompet Dhuafa

Sudah dari 2 tahun yang lalu saya mulai ketagihan berdonasi online karena hanya dengan smartphone yang terhubung dengan internet saya sudah bisa ikut berbagi kebahagiaan kapan saja dan dimana saja.

Bahkan layanan donasi juga sudah merambah sampai ke marketplaces kesayangan kita lho, jadi selain belanja kebutuhan sehari-hari melalui online shop bisa juga sekalian berdonasi. Mantap!

dompet dhuafa ada di tokopedia
Dompet Dhuafa di Marketplaces

Nyatanya memang berdonasi online saat ini sangat digemari generasi millennials dan dampaknya sangat luar biasa dalam kegiatan sosial kemanusiaan masa kini.

Mudahnya seseorang atau lembaga untuk menggalang dana dalam rangka membantu mereka yang sedang membutuhkan misalnya donasi untuk biaya rumah sakit, donasi bantuan hukum atau donasi untuk bencana alam dan kemanusiaan.

Pemberitaan yang dibagikan oleh pengguna media sosial dari satu orang ke orang lainnya menjadi trending atau viral dengan cepat karena respon yang luar biasa sehingga menggerakan hati jutaan warganet untuk berbondong-bondong melakukan donasi melalui platform tertentu.

Namun perlu diperhatikan dalam berdonasi online kita harus memilih lembaga yang memang dapat dipercaya untuk mengelola dana ini.

Nah salah satunya adalah Dompet Dhuafa yang merupakan Lembaga Filantropi Islam yang berkhidmat dalam pemberdayaan kaum dhuafa dengan pendekatan budaya melalui kegiatan filantropis (welas asih) dan wirausaha sosial profetik (prophetic socio-technopreneurship).

pilar dompet dhuafa

Dompet dhuafa yang berfokus pada pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup, pengembangan UKM, dan dakwah memiliki sejumlah pilar program unggulan.

Lembaga ini bukan hanya sekedar menyalurkan zakat dari pemberi zakat (muzakki) kepada orang yang menerima zakat (mustahik) tetapi juga menggali potensi yang ada pada saudara-saudara kita.

Seperti program pemberdayaan yang mengajarkan pada kewirausahaan dan pertanian yang akan membuat penerima manfaat bisa mandiri secara finansial. Ada juga sekolah gratis dan program beasiswa yang membentuk jiwa leadership dan mampu bersaing pada persaingan global.

Berbeda dengan cara ketika memulainya, menjadi pribadi yang konsisten untuk terus berbagi ternyata lebih sulit namun yang saya rasakan ketika berbagi adalah suatu kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Mungkin teman-teman juga merasakan hal yang sama seperti saya ketika berbagi dan melihat penerima manfaat bahagia maka kebahagiaan itu akan tertular kepada kita.

Wallaahu a’lam
Jangan takut berbagi, sekecil apapun gerakan kita ketika semua dilakukan secara kontinu dan bersama-sana akan memiliki arti yang besar bagi kehidupan.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog "Jangan Takut Berbagi" yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa